Popular articles, quotes and videos. Content created and submitted by Kancyl users is dedicated to public domain.

Berteduh di Puncak Bintang

 – Minggu kedua bulan Desember, sebetulnya bukan jadwal untuk bercengkerama ke luar bersama anak-anak. Karena tepat dua hari sebelumnya mereka sudah puas-puasan bermain bola di pusat permainan dekat rumah.Artinya, minggu ini seharusnya digunakan untuk bermain sekaligus beristirahat di rumah. Tapi satu agenda yang bisa memberikan pengalaman seru buat anak sepertinya sayang untuk dilewatkan.Pukul Tujuh pagi, anak-anak baru saja bangun. Artinya mereka harus loading dulu sebelum mandi. Tidak cukup satu jam untuk persiapan. Sedangkan Gelaran #Angklungpride sudah sejak pagi mengawali. Sehingga dalam perhitungan saya, bukan waktu yang tepat jika berangkat dari rumah jam 9, sementara acara sudah mulai sejak jam 8 pagi.

Persinggahan Mengesankan di Malaka

 – Saat mendengar nama Melaka, pikiran saya tiba melanglang buana terhadap salah satu materi pelajaran sejarah saat sekolah. Malaka adalah salah satu penggalan sejarah Indonesia. Malaka, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah eksistensi Nusantara pada masa kerajaan sebelum akhirnya menjadi Indonesia.Pada masa Indonesia masih terdiri dari kerajaan, Malaka adalah kesultanan yang menguasai sebagian wilayah Indonesia yaitu Pulau Sumatera. Pendirinya sendiri berasal dari Nusantara, yaitu keturunan Sriwijaya, Prameswara. Ia memerintah selama 110 tahun di Kesultanan Malaka sebelum ditaklukkan Portugis tahun 1511.Melalui jalur Malaka-lah Portugis menguasai Jawa bagian Barat dengan menaklukkan kerajaan Sunda dan menjajah Indonesia. Sebelum melakukan penjajahan, Portugis melakukan kerjasama dagang dengan kerajaan Sunda. Sunda Kelapa Jakarta menjadi saksi sejarah kehadiran portugis di Nusantara, dan mendirikan prasasti perjanjian dengan kerajaan Sunda.

Buku, Investasi Dunia Akhirat

 – Waktu mahasiswa, saat belanja kebutuhan buku, senang sekali jika mendapatkan harga miring dari umumnya. Maklum, awal tahun 2000-an buku-buku sudah cukup mahal. Apalagi menjelang tahun 2017.Sulit sekali mendapatkan buku berkualitas dengan harga di bawah Rp50 ribu, rata-rata di atas harga tersebut. Jika pun ada buku murah, masuk kategori buku saku atau buku-buku ringan, atau buku diskon sampai 50 dan 70 persen, masuk kategori buku yang tidak saya butuhkan.Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosial, tiba-tiba muncul pada timeline buku terbitan tahun 2014 yang memang sudah tidak terbit lagi dan kebetulan saya butuhkan untuk penyusunan proposal. “Wah, kebetulan banget bukunya masih ada, walaupun harus dikirim dari luar kota,” gumam saya sambil saya klik akun yang memajang buku tersebut.

Antara Kopi dan Buku

.co.id – Setiap membaca buku, seringkali rasa kantuk datang. Padahal buku yang harus dibaca adalah buku yang cukup menarik untuk ‘dilahap’. Alhasil, menjadi cara yang disadari, jika ingin mengundang kantuk adalah membawa buku ke tempat tidur, agar tidak mesti lagi pindah tempat. Ini seakan menjadi kebiasaan sejak SMA dan kuliah.Namun seiring pekerjaan yang harus sering berjibaku dengan buku, termasuk buku-buku yang seringkali tidak menarik untuk dibaca, karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus berteman dengan buku. Sayang sejak kuliah, maag seperti menjadi penghalang agar mata ini tetap terjaga.Penyakit maag yang kronis menjadi fobia saat berhadapan dengan kopi. Padahal kopi bisa menyegarkan konsentrasi dan membantu agar tetap fokus. Belakangan, muncul iklan ‘kopi putih’ di televisi yang katanya aman bagi lambung, saya pun mencoba beberapa kali dan saya coba juga kopi hitamnya dari brand yang sama.

Literasi Digital Bukan Sekadar Membaca dan Berbagi

 – Literasi kini menjadi istilah yang sangat familiar, seiring dengan populernya media sosial. Banyak komunitas, perkumpulan, atau lembaga, juga turut serta menggalakan gerakan-gerakan literasi. Bukan hanya para pegiat perpustakaan atau komunitas baca saja, juga para aktivis media sosial.Ini tidak terlepas dari banyaknya berbagai kasus yang muncul dari relasi dan transaksi yang dilakukan melalui media digital. Banyaknya penyebar hoax tanpa disaring, membagikan berita tanpa mempelajari media dan konten apa yang dibagikan, dan tentu saja gerakan-gerakan yang lebih terstruktur yang ingin mengadu-domba masyarakat secara horizontal, memungkinkan terjadinya konflik yang tak berkesudahan.Bukan hal yang tabu, kini kita banyak berdebat-debat kusir di media sosial terhadap satu permasalahan. Padahal masalah tersebut belum tentu ada secara aktual. Ia hanya dibuat untuk menggaduhkan suasana tanpa ada rujukan yang jelas dan real.

Balik Bandung via Kamojang Sambil Berwisata

Saat melakukan bakti sosial di Kecamatan Ibun, pernah satu kali naik ke Kamojang, jalannya sangat curam, mungkin tanjakannya mencapai 45 derajat. Motor 110 CC harus menggunakan gigi satu, padahal tidak pakai boncengan.Sejak saat itu, cerita-cerita tentang asyiknya mudik melalui jalan Kamojang sudah tidak menarik lagi. Apalagi beberapa tahun lalu, saat wisata ke Kamojang, mobil carry tidak bisa naik dan akhirnya harus balik lagi. Padahal setiap tahunnya, atau setiap kakak pulang ke rumah ibu, balik lagi ke Bandung selalu melalui Kamojang.Katanya jalanannya melompong, tidak macet. Belakangan, sejak pemerintah Kabupaten Bandung membangun lingkar Cukang Monteng, jalan baru yang cukup lebar, apalagi dengan ikon Jembatan Kuning, sebagai ikon baru Kamojang, seakan terus ingin merasakan indahnya berswafoto di sana.

Wikipedia Jadi Rujukan Ilmiah?

Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Mending jika yang dikutip tersebut berasal dari pendapat pakar atau ekspert di bidangnya.Mungkin saya kenal jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka pada halaman pertama tersebut adalah buku referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah juga.Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh juga oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya apa.

Dreamland, Intan Tersembunyi di Selatan Bali

Bulan April tahun 2016, mendapatkan kesempatan mengunjungi Bali untuk mengikuti kegiatan seminar. Selain menambah wawasan tentang dunia akademik, juga tidak saya sia-siakan untuk mengunjungi tempat-tempat yang cukup terkenal di Bali. Khususnya tempat-tempat yang masih bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua, dalam waktu tidak lebih dari satu jam untuk menyesuaikan dengan waktu yang tersisa.Hari terakhir saat kegiatan usai, dengan menggunakan sepeda motor sewaan, saya meluncur ke Pantai Dreamland. Karena berdasarkan informasi, pantai ini tidak seramai Kuta, tetapi kecantikannya jauh melebihi Kuta.Setelah bertanya, dengan rasa percaya diri saya bersama rekan berangkat menuju lokasi. Saat itu waktu menunjukan pukul 13.00. Melewati Jalan By Pass I Ngurah Ray dengan terik matahari menyengat.

Writherapy, Salurkan Energi Berlebih dengan Menulis

Saat kuliah, teman hidup yang paling setia menemani setiap perjalanan adalah buku. Buku bukan hanya teman setia, ia juga adalah teman terbaik, karena tidak pernah mengeluh untuk berbagi kisah dan ilmu kapan pun dan di mana pun.Namun ternyata, bertambah jam terbang dalam membaca buku, semakin merasa banyak kekurangan, semakin merasa banyak yang tidak diketahui. Pada sisi lain bahan-bahan yang tersimpan dalam memori juga sepertinya bosan berdiam diri, sehingga perlu disimpan di tempat lain.Membaca diibaratkan dengan makan, jika sisa-sisa makanan ini tidak dibuang dari lambung, perut bisa mengeras dan menjadi penyakit. Begitu juga, bahan-bahan yang kita masukan ke dalam tubuh, baik yang bersifat fisiologis atau pun psikis sebagian menjadi energi berlebih yang harus kita keluarkan dari tubuh kita. Baca selengkapnya ...

Serba Gratisan dari Sanur ke Kuta Bali

Paling enak memang jalan-jalan yang gratisan. Dari tiket, akomodasi, dan oleh-oleh semua serba gratisan. Memangnya ada yang seperti ini? Ya ada, tergantung kita memaknainya saja. Tapi bukan berarti tidak mengeluarkan dana sendiri, jika kekurangan tetap harus menambahi.Ini bukan hanya soal jalan-jalan gratisan, ini juga soal tempat-tempat wisata di Bali yang murah meriah atau sama dengan gratis, setidaknya yang saya kunjungi beberapa waktu lalu, rata-rata tidak ada pungutan retribusi, jika pun ada, hanya untuk bayar parkir, itupun jumlahnya standar, Rp2000 saja.Padahal tidak demikian dengan tempat wisata yang berada di Jawa Barat khususnya Bandung dan sekitarnya. Masuk pantai bisa habis puluhan ribu, masuk kawah bahkan bisa ratusan ribu. Parkirnya juga bisa berkali-kali lipat, walaupun tidak bisa disama ratakan.

Wajah Kota dari Atas Kereta

Hari ini kebetulan tidak ada agenda dan pekerjaanan. Meluncurlah saya beserta anak, istri, dan mertua menuju Kiara Condong dan memesan tiket tujuan Padalarang. Tentu saja ini bukan kali pertama saya naik kereta api. Hanya saja suasananya sangat lain dengan sebelumnya.Ini benar-benar kendaraan massal rakyat. Setiap orang dalam gerbong tersebut bisa bebas memandang dari ujung pintu ke ujung pintu gerbong selanjutnya. Dengan tempat duduk berhadapan persis menyerupai tempat duduk angkutan kota.Wajah-wajah penuh harapan dan gembira berdiri dan juga duduk. Tidak sedikit di antara mereka saling memandang satu sama lain. Ada pula yang tidak bosannya memandangi jendela, menyapu berbagai sajian alam dan gedung-gedung kota.

Mereguk Kesejukan di Situ Cisanti

Mendengar namanya mengingatkan pada cerita seorang teman, bahwa di daerah Ciparay terdapat sebuah kampung, namanya Kampung Cisanti. Konon, perempuan setempat memiliki mata berwarna biru dan cantik-cantik. Bisa jadi rujukan mojang parahyangan sebetulnya menuju ke daerah ini.Saya pikir itu mitos. Ternyata bukan, Cisanti benar-benar sebuah tempat nan jauh di Kabupaten Bandung. Tetapi mojang-mojang Sunda yang bermata biru bak noni Belanda itu sebuah mitos.Cisanti adalah sebuah danau atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai situ yang berada di dataran tinggi Bandung. Namanya kalah populer dibandingkan Situ Cileunca yang berlokasi di Kecamatan Pangalengan, walaupun sama-sama berada di wilayah Kabupaten Bandung.

Festival Steak Maranggi, dari Budaya Menuju Sejahtera

VIVA.co.id – Bicara festival bukan hanya seremonial. Ia hasil pengolahan akal agar suatu tradisi bisa kekal. Ia juga merupakan upaya institusi untuk membuat sebuah tradisi menjadi budaya yang tidak mati. Seperti yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.Sudah berapa banyak event yang digagas oleh Bupati yang Nyunda tersebut, dari event lokal, lintas domestik, regional, nasional, bahkan tingkat ASEAN. Semua event hampir beraroma budaya. Rupanya pesta rakyat, bukan hanya untuk memopulerkan Purwakarta yang awalnya dianggap daerah mati, namun untuk menyejahterakan.Dalam konteks komunikasi, event terkait dengan promosi yang dapat mendatangkan konsumen. Agar konsumen tertarik, acara harus dikemas dengan semenarik. Festival sebagai bagian dari pesta rakyat biasanya menarik perhatian.

Wisata Sungai Purba Sanghyang

Satu kalimat itu cukup tepat menggambarkan suasana batin, saat rombongan yang berjumlah 15 motor mengunjungi Sanghyang Heuleut, Rajamandala-Padalarang, Kabupaten Bandung Barat beberapa waktu lalu. Tepatnya awal November 2015 lalu.Namun bukan Stone Garden yang dekat dengan gua Pawon yang kami kunjungi. Melainkan kumpulan batu Purba, sepanjang sungai menuju lokawi wisata baru Sanghyang Heuleut. Lokasi ini berurutan dengan Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Ratu.Sanghyang Heuleut berasal dari bahasa sunda yang artinya sempit, adalah lokasi wisata yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Lokasi wisata ini tiba-tiba populer dan menarik banyak pengunjung.