Popular articles, quotes and videos. Content created and submitted by Kancyl users is dedicated to public domain.

Ketika Teroris Mengorbankan Anaknya, Apa yang Bisa Dilakukan?

 – Serangkaian bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, merupakan serangan teroris terburuk yang pernah terjadi di Indonesia sejak 2005. Dua keluarga menyerang tiga gereja pada hari Minggu dan satu kantor polisi pada hari Senin.Akibat adanya serangan ini telah menewaskan sedikitnya 23 korban jiwa. Masyarakat kaget dan tak percaya dengan kenyataan bahwa, serangan bom itu dilakukan oleh orangtua sambil membawa anak-anak mereka yang akhirnya meninggal dalam aksi tersebut.Pada hari Minggu, seorang ibu membawa dua putrinya yang berusia 9 dan 12 tahun dan meledakkan bom di Gereja Kristen Indonesia. Dua putranya yang berusia 16 dan 18 tahun mengendarai sepeda motor ke Gereja Santa Maria dan meledakkan diri mereka. 

Langkah Konkret Hadapi ‘Simpatisan Teroris’ di Media Sosial

 – "Terorisme lagi, terorisme lagi", negara ini seakan tak henti diberikan cobaan yang bertubi-tubi menjelang bulang suci Ramadan. Tindakan keji tersebut kini terjadi lagi, dan memakan banyak korban jiwa. Tindakan terorisme, kita tahu, tidak ditujukan langsung kepada ‘lawan’, melainkan di mana saja dan terhadap siapa saja.Tindakan keji itu dimaksudkan untuk memancing perhatian dari khalayak. Menurut polisi, waktu ledakan hampir bersamaan. Masing-masing pada pukul 07.30 WIB, 07.35 WIB, dan 08.00 WIB. Terorisme bukan sesuatu yang baru muncul kemarin sore.Sejarah mencatat, sejak abad 18, istilah teror dan terorisme sudah ada. Meskipun, fenomena yang terjadi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelumnya. Kata ‘terorisme’ berasal dari Bahasa Perancis, le terreur. Jika kita melihat tujuannya, dari sejak dahulu teror bertujuan untuk memanfaatkan rasa takut yang memang lumrah ada di setiap diri manusia.

Utang Enggak Utang yang Penting Nikah

 – Tak lama setelah sampai di rumah ibu, beliau langsung meminta saya untuk mengadakan seremoni pernikahan di Indonesia. Saya sebetulnya sudah menikah hampir dua tahun. Tapi, bagi ibu pernikahan itu rasanya kurang afdol, kalau belum mengikuti tata cara semestinya.Peliknya urusan acara pernikahan dengan ekspektasi keluarga, tentu bukan milik saya seorang. Beberapa teman juga terpaksa mengundang ribuan tamu atas permintaan orangtua. Seorang teman terpaksa merayakan pernikahan di gedung yang terbilang cukup mewah.Saat mendatangi resepsi pernikahannya, karangan bunga dari berbagai perusahaan ternama dan para pejabat nasional terpampang di depan gedung. “Aku akhirnya ngutang ke bank untuk biaya resepsi, Rik,” kata dia.

Kalian yang Sesat, Anak-anak yang Menanggung Akibat

 – Peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo sama-sama menyeret anak kecil dalam parade kebencian. Senyum polos Pamela Riskita (12) dan Fadhila Sari (9) dalam foto keluarga begitu mengiris hati.Tak ada alasan untuk tidak menyebut kedua anak itu sebagai korban. Saya membayangkan keduanya bangun tidur pada Minggu pagi dengan senyum ceria, mengira akan diajak jalan-jalan bersama keluarga, kemudian pulangnya dibelikan es krim seperti yang tergambar di laman Facebook si ibu beberapa tahun lalu.Tapi, nyatanya, senyum itu kemudian hancur bersamaan dengan tubuh mereka di halaman sebuah gereja.

Kalian yang Sesat, Anak-anak yang Menanggung Akibat

 – Peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo sama-sama menyeret anak kecil dalam parade kebencian. Senyum polos Pamela Riskita (12) dan Fadhila Sari (9) dalam foto keluarga begitu mengiris hati.Tak ada alasan untuk tidak menyebut kedua anak itu sebagai korban. Saya membayangkan keduanya bangun tidur pada Minggu pagi dengan senyum ceria, mengira akan diajak jalan-jalan bersama keluarga, kemudian pulangnya dibelikan es krim seperti yang tergambar di laman Facebook si ibu beberapa tahun lalu.Tapi, nyatanya, senyum itu kemudian hancur bersamaan dengan tubuh mereka di halaman sebuah gereja.

Kalian yang Sesat, Anak-anak yang Menanggung Akibat

 – Peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo sama-sama menyeret anak kecil dalam parade kebencian. Senyum polos Pamela Riskita (12) dan Fadhila Sari (9) dalam foto keluarga begitu mengiris hati.Tak ada alasan untuk tidak menyebut kedua anak itu sebagai korban. Saya membayangkan keduanya bangun tidur pada Minggu pagi dengan senyum ceria, mengira akan diajak jalan-jalan bersama keluarga, kemudian pulangnya dibelikan es krim seperti yang tergambar di laman Facebook si ibu beberapa tahun lalu.Tapi, nyatanya, senyum itu kemudian hancur bersamaan dengan tubuh mereka di halaman sebuah gereja.

Hidup Minimalis tapi Ujung-ujungnya Tetap Kapitalis

 – Gaya hidup minimalis rupanya banyak dibahas. Ada buku dan blog yang mencoba membahas tuntas gaya hidup ini, juga ada film yang menceritakan tentang kehidupan minimalisti. Tren hidup minimalis mulai populer di tengah gempuran budaya konsumerisme seperti saat ini.Para penganutnya pun tersebar di hampir penjuru dunia, misalnya Eropa, Amerika, Jepang, dan Australia. Lantas, apa yang membuat gaya hidup minimalis ini menarik, sehingga bisa diterima masyarakat banyak? Pada awalnya, gaya hidup minimalis adalah ajaran Buddhisme Zen yang mengajarkan tentang cara menekan hawa nafsu.Mulai dari hawa nafsu membeli, memiliki, dan menggunakan barang yang berlebihan. Ajaran ini diterapkan pada kehidupan orang Jepang. Tak hanya alasan kepercayaan dan ajaran agama, melainkan ada faktor geografis yang menyebabkan mereka harus menjalani gaya hidup minimalis.

Bersimpati dan Cari Solusi, Bukan Malah Sinis Penuh Dengki

 – Narapidana terorisme sempat menguasai seluruh blok yang ada di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, selama lebih dari 24 jam. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto mengatakan kepada para wartawan bahwa, ada sekitar 30 sampai 40 orang yang pertama kali melakukan provokasi.Para napi itu telah berhasil membobol teralis besi tahanan di gedung C. Tidak hanya itu, mereka juga menguasai seluruh area Rutan Mako Brimob. Kejadian ini mengejutkan, karena tempat ini adalah markas komando pasukan khusus milik Polri.Mereka diserang dari dalam rumah sendiri. Sebelumnya pernah terjadi kericuhan, tapi tak segawat dan segenting kali ini. Ada lima polisi dari satuan khusus antiteror yang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Kepolisian menyebutnya sebagai sesuatu yang di luar batas kemanusiaan.

Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, lalu Apa Penggantinya?

 – Kini, anak muda di Amerika Serikat semakin tidak menyukai cara pemimpin mereka bekerja. Kemarahan mereka baru-baru ini tergambar, ketika ribuan anak muda dan lainnya melakukan demonstrasi yang dilakukan pada tanggal 24 Maret lalu.Di mana, demonstrasi menuntut adanya kontrol senjata, hampir sebulan setelah sejumlah teman mereka tertembak dan terbunuh di sebuah SMA di Parkland, Florida. Hal ini tentu mendorong kami, seorang sosiolog dan ekonom bertanya-tanya, bagaimana anak muda mendesain kembali sistem ekonomi, jika mereka diberi kesempatan?Berdasarkan survei terkini, jawaban mereka seharusnya membuat para politisi pendukung status quo untuk berpikir ulang tentang kebijakan ekonomi mereka.  Sebuah survei dari Harvard University di tahun 2016 menemukan bahwa, 51% anak muda Amerika yang berusia 18 sampai 29 tahun tidak lagi mendukung kapitalisme.

Begini Promosi di Akun Selebgram, Unik Hingga Bikin Melongo

 – Generasi saat ini semakin melek dengan dunia teknologi, khususnya internet. Mereka sering mengatakan bahwa, salah satu dari keunggulan media sosial adalah minimnya ketergantungan terhadap sponsor. Di media sosial seperti Instagram, kita sering menemukan beragam promosi produk pada akun-akun dengan jumlah pengikut yang banyak.Biasanya, para selebgram tersebut menerima promosi berbayar dari penjual online. Kombinasi sponsor dan selebgram ini bisa dibilang lebih berpengaruh ketimbang iklan-iklan konvensional di media. Adanya kedekatan dan perasaan saling kenal antara followers dan selebgram membuat promosi lebih mengena. Konon, sekalipun milenial rupanya membuat toko-toko di mall tutup. Semua itu karena semua orang terlalu asyik belanja melalui online, ketimbang datang langsung. Bukankah begitu?

Terjebak di dalam Grup Mama-mama Muda

 – Beberapa notifikasi di handphone muncul, beruntun, dan membuat notifikasi yang justru lebih penting lainnya tertimbun. Saya tak bilang notifikasi dari grup chat yang berisikan mama-mama itu tak penting. Tapi, memang kenyataannya isi dari percakapan mereka tak lagi menarik seperti saat bergabung di awal.Ceritanya, awal 2018, dengan dada membusung dan penuh percaya diri, saya memutuskan untuk bergabung dalam grup ‘Mahmud’. Grup yang terdiri dari kawan-kawan perempuan saat kuliah di jurusan Arsitek dulu. Namanya juga mama muda, jelas anggotanya pun adalah mereka yang sudah punya anak, sedang hamil, bahkan yang berencana hamil. Pertama kali bergabung ke dalam grup ‘Mahmud’, respons anggotanya begitu hangat. Sebagai pengantin baru dan belum memiliki momongan, saya didoakan mereka agar cepat diberi buah hati.

Tidak Ada Film Anak di Bioskop Hari Ini

 – Kalau ngomong film Avengers: Infinity War yang booming, nggak ada kelarnya. Mulai dari ribut bin berantemnya netizen gara-gara spoiler, review ala-ala pengamat film profesional, hingga review ala kadarnya.Apalagi kalau sekadar pamer meme atau promosi terselubung guna menghidupkan kembali tren batu akik ala Thanos, walah, nggak kehitung judulnya.Makanya, nggak kaget juga sih waktu Rotten Tomatoes merilis berita bahwa Avengers: Infinity War meraih keuntungan jauh lebih besar dibanding film Marvel sebelumnya, Black Panther.

Percakapan-percakapan Ajaib di dalam Transportasi Massal

 – Pengguna transportasi massal di Indonesia semakin banyak. Berbagai upaya yang dilakukan memang manjur. Per 1 Maret 2018, misalnya, jumlah pengguna Transjakarta menembus rekor 507.909 pengguna. Jakarta memang tak bisa dijadikan ukuran, namun paling tidak logika yang berlaku kurang lebih sama.Meningkatkan kualitas transportasi massal beserta fasilitasnya, tentu akan membuat masyarakat pelan-pelan meninggalkan kendaraan pribadi yang selama ini hanya menambah polusi dan kemacetan saja. Transportasi massal, kini sudah menjadi kebutuhan, bahkan belakangan ini menjadi gaya hidup khas perkotaan.Sementara itu, kondisi di dalam armada transportasi hingga kini masih berjarak dengan kesempurnaan. Bisa dikatakan belum benar-benar aman dan nyaman bagi penumpangnya.

Jangan-jangan, Ini yang Terjadi di Balik Baju Mahalmu

 – Sebuah kemeja bermerek terkenal dan harganya mahal kamu beli dengan rasa bangga. Embos kecil merek di sakunya, juga ukiran merek pada kancingnya membuatmu tepuk dada.Yup, tampak manis dan elegan. Mengenakannya adalah keyakinan diri yang membuatmu merasa ada.Sementara, di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota, puluhan kemeja yang serupa dengan punyamu itu menumpuk tinggi di kursi ruang tamu, yang sekaligus menjadi ruang kerja. Kemeja-kemeja itu menunggu dibersihkan dari sisa benang jahit yang tak seharusnya.

Di Balik Kemesraan Kim Jong-un dan Moon Jae-in

 – Pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in adalah peristiwa bersejarah. Setelah sekian lama pisah ranjang, kini kedua negara itu tetap pisah ranjang. Yang satu di utara, yang satu di selatan.Tapi keduanya sudah saling berdamai. Kalau kamu penggemar film Korea, seharusnya kamu menangis bahagia melihat kemesraan Kim dan Moon. Setidaknya para artis K-Pop dan drama Korea alias Drakor tidak perlu ikut wamil lagi.Kalau kamu penasaran dan masih tidak percaya, bisa lihat beberapa foto berikut ini. Keduanya tampak cerah, dengan senyum sumringah. Keduanya juga saling berpelukan, yang menandakan mereka sudah berdamai. 

Kalau Tidak Punya Empati, Apa Harga Hidup Ini?

 – Saat tak sengaja membuka linimasa Facebook, ada seorang kenalan yang bercerita bahwa ia sedang berada di Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Menurut penuturannya, ini merupakan kali ketiga melakukan ibadah umrah.Kebetulan, Mekkah dekat dengan tempat tinggalnya di seputaran Madinah, sesuai dengan tempat yang disediakan perusahaan tempat suaminya bekerja. Seperti biasa, postingan tersebut dikomentari oleh kawan yang lainnya.Dan, ada salah satu yang berkomentar seperti ini, “Senang ya, bisa bolak-balik datang ke situ. Kalau di sini ada yang sudah nabung bertahun-tahun ingin ke situ, eh malah ditipu.”  Rasanya sangat sedih, karena cerita tentang masyarakat kita yang ramah tamah, gotong-royong guyub rukun, seolah hanya menjadi dongeng belaka.

Komentar Suka-suka Warganet Film Avengers: Infinity War

 – Film Avengers: Infinity War bercerita tentang pertempuran besar antara kekuatan jahat kosmis dengan ensemble superhero Marvel. Mereka memperebutkan Infinity Stones antara para superhero dan villain terkuat sejagat raya, Thanos.Sosok superhero dan villain dibuat seimbang. Berbeda dengan film-film tema pahlawan kebanyakan. Saking adilnya, kamu bisa jadi enggak tahu harus prihatin ke siapa.Nah, di media sosial, topik Infinity War ini ramai diperbincangkan. Pangkal masalahnya adalah “Yang sudah nonton vs yang belum nonton”. Sebagian warga kita yang beruntung sudah berkesempatan menonton film ini duluan. Mereka masuk deretan warga yang bisa pamer sama temannya di media sosial.

Baik dan Santun di Dunia Nyata, tapi Jahat di Dunia Maya

 – Soal kesantunan, orang-orang Indonesia seharusnya tak perlu diajari lagi. Sejak kecil, kita selalu diberi tahu orangtua tentang mana yang boleh, mana yang tidak. Belum lagi lingkaran sosial yang mengingatkan kita soal etika.Mulai dari sekolah, kampus, kantor, hingga bisik-bisik tetangga. Namun, kenyataan terkadang berseberangan dengan apa yang diharapkan. Boleh jadi persoalan kesantunan tak menjadi masalah di dunia nyata. Selalu mudah menemukan mereka yang menegur dan tersenyum kepada kita.Tapi itu menjadi masalah di dunia maya. Di internet, orang-orang baik nan santun, kita anggap saja semuanya begitu. Tapi, lain waktu mereka juga bisa mendadak jadi jahat. Mengacu data Unicef pada 2016, sekitar 41-50% remaja Indonesia pada rentang usia 13-15 tahun pernah mengalami perisakan atau bullying, terutama di dunia maya. 

Habis dari Luar Negeri, Terbitlah Gegar Budaya

 – Kamu pernah tidak bertemu dengan rombongan orang Indonesia, tapi maunya bicara Bahasa Inggris melulu? Minimal, setiap kalimat ditambahi 'which is, dan actually'. Atau, mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang baru pulang dari luar negeri, lalu dalam setiap obrolan, dikit-dikit langsung membawa kisahnya di negara tersebut.Misalnya, beberapa ungkapan seperti ini, “Duh Jakarta panas banget, nggak kayak di Alaska, enak udaranya”, “Ih, KRL gini amat sih, kalau di Tokyo tuh paling bagus sedunia deh, pokoknya”, “Bandung macet banget, coba di Singapura, mana ada macet!” Menyebalkan bukan?Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak semua orang yang baru pulang dari luar negeri seperti itu. Ada juga yang benar-benar memberi tanggapan serius dengan analisa, bukan hanya pamer pernah ke luar negeri. 

Tren 'Bridal Shower' di Indonesia Jelang Pernikahan

 – Ya, bridal shower sepertinya memang menjadi tren di Indonesia. Bridal shower berbeda dengan siraman pengantin ala Jawa. Siraman, dalam budaya Jawa, termasuk dalam rangkaian prosesi pernikahan yang diadakan sebelum ijab kabul bersama keluarga dua mempelai.Sementara, bridal shower kini lebih sering menjadi ajang kumpul calon mempelai perempuan dengan teman-teman terdekatnya. Sejarah bridal shower sendiri berawal di Belanda pada abad ke-16. Di mana, ketika seorang perempuan dari keluarga terpandang hendak menikahi seorang lelaki miskin.Keluarga perempuan tidak menyetujui perkawinan itu, lalu menolak untuk memberi modal nikah.  Akhirnya, teman-teman calon mempelai patungan untuk membantu pernikahan tersebut. Bantuan itu berupa sumbangan uang dan berbagai keperluan rumah tangga. 

Bagaimana Perempuan Bisa Jago Bersolek Sekaligus Intelek

 – Girls, kalian pernah mengalami ini tidak sih? Mau pergi, bingung mau pakai baju apa, jilbab apa, rok apa, sandal apa. Eh tapi, kalau sandal tidak terlalu bingung, soalnya cuma punya satu-dua sandal saja.Kalau lipstik? Untungnya cuma punya satu. Pensil alis? Punya, tapi cuma buat koleksi, tidak suka gambar alis karena memang tidak bisa menggambar. Blush on, eye shadow, eye liner, atau maskara?Aduh, tidak punya yang kayak begituan. Apalagi, jika ditanya cara memakainya, ya pasti gak bisalah. Jangankan punya perlengkapan make up ini-itu, punya bedak padat saja tidak. Cuma punya bedak baby, maklum baby face.

Tak Perlu Asli yang Penting ‘Selfie’ di Rabbit Town Bandung

 – Sejak dibuka pada 23 Februari lalu, destinasi pariwisata bernama Rabbit Town di Bandung, Jawa Barat, memicu kontroversi. Destinasi wisata ini sejak awal mengaku sebagai objek wisata swafoto (selfie destination). Namun, beberapa instalasi yang menjadi objek foto dalam Rabbit Town menjadi polemik.Instalasi-instalasi tersebut diduga hasil plagiat karya seniman kondang luar negeri. Ada instalasi yang mirip Urban Light karya Chris Burden yang digelar di Los Angeles County Museum of Art di Amerika. Kemudian, ada yang mirip instalasi seniman terkenal Jepang Yayoi Kusama yaitu Obliteration Room.Beberapa instalasi lainnya mirip instalasi di Museum of Ice Cream di Amerika. Tuduhan plagiat itu diperbincangkan banyak orang dan menjadi viral di media sosial. Namun bagi saya, permasalahan utama dari Rabbit Town bukan masalah penjiplakan, tapi bertemunya kebiasaan swafoto dengan kepentingan pengelola wisata.

Ada yang Lebih Penting Ketimbang Kebelet 'Nikah'

 – Apakah Anda tahu berita tentang anak remaja di Bantaeng, Sulawesi Selatan yang kebelet nikah? Bocah-bocah SMP ini jadi bahan omongan di mana-mana, sampai-sampai anggota DPR juga ikut bersuara. Mereka minta dinikahkan dengan alasan yang bikin melongok.Di mana, si anak perempuan takut tidur sendirian sejak ibunya meninggal. Sementara, pihak keluarga bukannya kasih solusi, malah minta dispensasi ke Departemen Agama setempat agar bisa menikahkan mereka berdua. Yang jelas, mereka masih sangat menggemaskan dan usianya di bawah aturan hukum soal batas minimal usia menikah.Sepertinya mudah sekali bagi orangtua mengizinkan anaknya menikah. Tanpa melihat umur, kesiapan mental, ekonomi, dan segala hal lainnya. Masalah pernikahan dini ini bukan masalah yang sepele. Bukan sekadar kawin, tercatat di negara dan punya anak, lalu kelar. Menikah bukan melulu soal itu.