Malioboro, Tentang Rindu yang Menjadi Candu

Malioboro, Tentang Rindu yang Menjadi Candu

Deristya Syafjulianti  ⋅  09 Feb 2016 04:45:07

Melintang sepanjang 1 kilometer dari utara ke selatan, Malioboro laksana detak jantung yang membuat Jogja semakin bernyawa. Ruas jalan ini tidak hanya mengisahkan tentang rupiah demi rupiah yang dibelanjakan, namun terselip juga romantisme dan rindu yang syahdu.Penyair Joko Pinurbo pernah berucap bahwa Jogja itu terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Namun, sepertinya dia lupa, bahwa Jogja juga terbuat dari Malioboro. Seruas jalan yang terletak di pusat kota ini merupakan detak jantung dari perekonomian Jogja. Bahkan keberadaan kawasan ini juga telah dikenal oleh wisatawan dunia.Belum ke Jogja kalau belum ke Malioboro, begitu kata anak-anak sekarang. Sejak zaman dulu, Jalan Malioboro memiliki posisi penting di Yogyakarta. Bersama Jalan Pangeran Mangkubumi (Jl. Margomulyo) dan Jl A. Yani (Jl. Margo Mulyo), ketiga jalan yang melintang dari Tugu hingga Keraton Yogyakarta ini, menjadi poros garis imajiner.

Continue Reading

Related Posts