Di Balik Bisnis Mobil Listrik

Di Balik Bisnis Mobil Listrik

Vincent B. Fisher  ⋅  21 Feb 2021 23:26:57

 – Kabar Tesla membatalkan investasi di Indonesia mengejutkan berbagai pihak, khususnya warga yang mendukung investasi ini. Sebab pemerintah selalu membangun narasi bahwa solusi untuk menyejahterakan warganya adalah dengan mengundang investror.

Sialnya investasi tidak mampu menyejahterakan rakyat, apalagi rakyat kecil. Mereka dari golongan ini biasanya hanya jadi pekerja bagian bawah. Jika kita buat hirarkinya maka investor berada di posisi puncak, pemerintah ada di bawahnya, penegak hukum di bawah pemerintah. Nah, warga berpendidikan rendah + miskin berada paling bawah.

Investasi butuh lahan yang luas, untuk mendapatkan lahan itu maka pemerintah pusat dan daerah mencarikan lahannya. Pada posisi seperti ini tak heran, kaum aktivis menyebut pemerintah Indonesia ini sebagai calo bagi rakyatnya sendiri.

Awalnya Tesla ingin berinvestasi di Indonesia terdengar akhir tahun lalu. Kala itu Jokowi langsung sempat komunikasi via telfon dengan Ellon Musk, pemilik perusahaan Tesla. Tapi entah gerangan apa, Tesla malah berinvestasi di India.

Sedangkan di Indonesia sendiri Tesla akan berinvestasi Sistem Pencadangan Energi atau Energi Storage System (ESS). Dan tentu saja itu bukan kabar baik bagi negara penganut investasisme seperti Indonesia ini. Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat itu akan beroperasi tahun ini di India, mulai dari tahap pembuatan pabrik, perakitan, dan pemasaran.

Konon, kendaraan yang diciptakan itu akan menguasai pasar kendaraan di dunia. Sebagaimana diketahui saat ini Ellon Musk adalah orang terkaya di bumi, punya modal yang besar, dan tentu saja dengan kecerdasan membaca peluang investasi masa depan.

Teruji ketika masa pandemi Covid-19 pengusaha lain pada kocar-kacir mempertahankan perekonomiannya, bahkan banyak yang bangkrut, sementara Ellon Musk semakin jaya. Awal 2020 pandemi Covid-19, kekayaan Ellon Musk hanya Rp 28,1 triliun, sekarang Rp 2.813 triliun versi Bloomberg. Sementara itu kemiskinan di Indonesia terus bertambah, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin Indonesia karena pandemi Covid-19 pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang. Dibandingkan pada September 2019, penduduk miskin Indonesia berjumlah 24,97 juta orang.

Kembali ke persoalan Tesla, mengutip Okezone.com, pengamat ekonomi Bima Yudistira dari Indef (Institusi for Development of Economics and Finance) menilai ekosistem industri mobil listrik di India lebih siap dibanding Indonesia.

Dari aspek inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM) India jauh lebih unggul. Ketertinggalan Indonesia di sektor sumber daya mobil listrik juga dibarengi dengan sistem Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (ouput) yang dianggap terlalu boros investasi. Kendala lain adalah kawasan industri mobil listrik. Indonesia baru mencatatkan pembangunan awal, sementara India sudah menyiapkan jauh-jauh hari.

Continue Reading

Related Posts