Pemerkosaan dan Kekerasan Seksual Selalu Diwajarkan di Kampung Saya

Pemerkosaan dan Kekerasan Seksual Selalu Diwajarkan di Kampung Saya

Billy Howarth  ⋅  04 Feb 2021 22:13:14

 – Ada tiga kasus berbeda pada tulisan ini. Seorang maniak yang mencoba memperkosa murid SMP, seorang pedofil akut dengan banyak korban, dan seorang nenek yang hampir diperkosa. Kasus itu heboh di kampung saya, tetapi mendadak padam dan tidak terdengar lagi hanya dalam hitungan hari.

Ada tendensi untuk menutup-nutupi berita semacam ini oleh warganya, sehingga kejadian ini—pemerkosaan dan kekerasan seksual—selalu terjadi berulang kali.

“Timur mana timur?" Chat itu masuk ke ponsel saya tepat setelah selesai saya memberi materi Taekwondo di dojang (tempat latihan Taekwondo) saya. Atau lebih tepatnya saya membuka chat tersebut pada saat itu karena chat itu masuk ke ponsel saya sejam sebelumnya.

Saat itu jam 8 malam, dan saya merasa tanggung jawab menulis kembali kisah mengenai segala hal yang tidak umum di timur, lebih tepatnya di kampung saya di Wakatobi sana kembali harus saya bikin. Saya bersyukur karena, di tengah jutaan manusia di pulau Jawa, masih ada satu orang asli pulau Jawa (paling tidak) di lingkaran pertemanan saya yang peduli bahwa isu di timur jauh harus diangkat.

Entah pada akhirnya sekadar menjadi konten atau memang tujuannya agar semua orang tahu bahwa ada satu dan banyak hal harus dilirik di timur sana, terutama di kampung saya, di Tomia. Bliolah Riyanto, pemred dari susahtidur.net ini yang walau tulisan saya di web blio ini masih hitungan jari, tapi chat template di pembukaan itu sepertinya sudah memenuhi ruang-ruang perbincangan kami melalui aplikasi Whatsapp.

Orang kedua, yang saya anggap sebagai bagian dari orang yang membuka mata saya dan jadilah tulisan ini adalah Rezza, teman kantor saya. Setelah celetukannya perihal berhubungan seks dengan consent dan hanya akan romantis jika dilakukan berdua (cewek dan cowok) itu membuat saya memikirkan kembali bagaimana hubungan seks sebagai peninggalan purba untuk manusia dari sejak Nabi Adam itu harus dilaksanakan dengan penuh hikmat.

Oke, mari kita kembali ke tema. Sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah memberi semacam bocoran kepada beberapa teman saya bahwa saya akan menulis tentang salah satu hal paling tabu dibicarakan di kampung saya. Ya, tentang pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Bahasan ini selalu menjadi hal yang kalau orang bilang "panas-panas tai ayam." Ungkapan yang bahkan sekadar anak sekolah dasar saja paham maksudnya. Sebuah ungkapan yang semoga dimengerti semua pembaca rubrik ini bahwa pendidikan seks begitu urgennya diadakan di kampung saya.

Mari kita mulai dengan kejadian pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan yang terjadi kepada anak-anak sekolah. Yang paling saya ingat tentu saja kejadian ketika mantan gebetan saya yang baru kelas 1 SMP mendapati dirinya dilecehkan oleh seorang yang maniak seks.

Ceritanya bermula ketika doi yang ternyata sudah punya cowok itu pulang larut dan pacarnya itu meminta jatah. Awalnya cium, berlanjut ke grepe, lalu si pacar minta lebih yang lantas ditolak doi.

Nah dalam keremangan malam di semak-semak, mereka kedapatan oleh orang yang sudah berumur (si maniak). Awalnya si maniak terlihat ingin menyelamatkan doi dengan memukul lalu mengusir pacar doi.

Continue Reading

Related Posts