Rukini, Dedikasikan Hidupnya untuk Musik Tradisional

Rukini, Dedikasikan Hidupnya untuk Musik Tradisional

Sławomira Duda  ⋅  02 Feb 2021 02:53:41

 – Nama Rukini begitu dikenal di Bojonegoro, Jawa Timur. Rukini adalah pemain siter legendaris yang lahir di Ngawi, 31 Desember 1957 silam. Siter, alat petik khas dalam gamelan dengan 13 pasang senar sepanjang 90 cm, telah menyatu dengan hidupnya.

Rukini mengabdikan dan mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk kesenian. Ia dengan lentur bermain siter yang dipadukan dengan gamelan seperti kempul, kendhang, gong dan sebagainya. Ia bersama suaminya, Asmuji, dikenal sebagai pasangan musisi tradisional legendaris.

Suaminya Asmuji adalah peniup gong bumbung. Keduanya sekarang tinggal di sebuah gang kecil di bagian utara Masjid Menak Anggrung Padangan, Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur. Keduanya dikenal sebagai pemain musik keliling yang kerap tampil di banyak kota, mulai dari daerahnya sendiri Bojonegoro, berlanjut ke Ponorogo, Sragen, Solo, Yogyakarta, Tuban, Magelang, Surabaya dan beberapa kota lainnya.

Keterampilannya bermain siter bukan didapatkan dari sekolahan. Ia berlatih dengan tekun secara otodidak. Ia mendengarkan siaran radio untuk mendengar setiap nada dan melatih olahrasa, agar pendengaran serta rasa lebih tajam terhadap musik. Ia kemudian mempelajari bermain sitar dari kakeknya, juga dari orang tuanya. Ia terus dengan tekun mempelajari alat musik siter hingga akhirnya memilih kesenian dan musik tradisi sebagai jalan hidupnya.

Ia juga menerima penghargaan dari Pemkab Bojonegoro sebagai seorang seniman yang banyak berjasa pada kesenian lokal khususnya musik tradisi. Pemain siter, mungkin di era 1980-an hingga 1990-an masih cukup banyak ditemukan. Tapi, tidak banyak yang gigih melanjutkan hingga era milenial seperti ini.

Rukini hanya salah satu dari sedikitnya orang yang tetap mendedikasikan hidup seutuhnya untuk musik tradisi, khususnya siter. Tertimpa Musibah Beberapa tahun silam, Rukini yang hidup dalam kesulitan diberikan tawaran untuk mengikuti program Pelunas Hutang di salah satu televisi swasta nasional. Tadinya, ketika ia akan berangkat ke Jakarta, ia memetik buah sukun yang ada di rumahnya untuk oleh-oleh.

Namun, buah sukun itu jatuh dan menimpa tubuhnya. Bagian syarafnya sakit karena tertimpa buah sukun tersebut membuatnya lebih sulit bergerak. Alhasil, ia batal mengikuti audisi program tersebut. Tahun 2018, Rukini bersama suaminya Asmuji diundang ke acara Jazz Bengawan, sebuah acara musik yang digelar di tepi Sungai Bengawan Solo.

Rukini cukup bahagia karena kembali mendapatkan kesempatan untuk memperdengarkan suara indah dari jemarinya yang beradu dengan siter. Saat itu, ia bermain bertiga dengan suaminya, dan seorang rekannya yang memainkan gemblak. Ia bermain siter sambil bernyanyi. Namun, kedatangannya ke Jazz Bengawan harus dengan naik tandu karena rasa sakit di sarafnya.

Ditambah lagi dengan usianya yang juga cukup sepuh, masuk usia kepala 6 membuatnya cukup kesulitan dengan rasa sakit itu. Jemarinya juga terasa kaku. Tapi nada indah tetap dimainkannya dan bergema di Jazz Bengawan 2018. Rukini tetap berkarya dan menjaga musik siter tradisional dengan anggun dan mempesona. Musibah kembali datang di akhir 2019, ketika pandemi melanda Indonesia.

Maka semua kegiatan seniman mulai sulit, dan banyak pula seniman yang mengalami kesulitan hidup selama pandemi Covid-19 ini. Tak terkecuali maestro kita, sang pemain siter legendaris. Rukini juga cukup menderita. Bahkan, ketika era new normal dimulai dan tawaran kembali datang, Rukini masih belum begitu berani untuk menerima tawaran tersebut karena takut tertular penyakit berbahaya.

Continue Reading

Related Posts