Sama dengan Manusia, Kemandulan Gajah Asia Tidak Terkait Obesitas

Sama dengan Manusia, Kemandulan Gajah Asia Tidak Terkait Obesitas

Tore Lindberg  ⋅  29 Jan 2021 18:55:06

 – Setelah melalui serangkaian penelitian, termasuk melakukan uji coba terhadap sejumlah gajah Asia yang hidup di dalam penangkaran, para ilmuwan menepis anggapan yang selama ini berkembang bahwa gajah Asia mengalami krisis obesitas yang berkorelasi dengan kemandulan.

Dalam penelitian yang dimuat di Journal of Experimental Biology, salah seorang peneliti, Daniela Chusyd, mengutarakan bahwa adalah tidak benar gajah Asia bisa mengalami kemandulan karena obesitas. Sebagaimana halnya manusia yang kerap dikait-kaitkan antara infertilitas dengan obesitas.

Chusyd mengungkapkan ia telah meneliti seberapa kadar lemak yang dimiliki oleh gajah penangkaran yang sehat, untuk membandingkan problem obesitas antara gajah dan manusia. Penelitian yang ia lakukan saat bekerja di University of Alabama di Birmingham itu ternyata menunjukkan bahwa sebenarnya, obesitas tidak ada kaitannya dengan kesuburan.

Pada manusia saja tidak, apalagi pada gajah. Untuk membuat perbandingan antara masalah obesitas pada manusia dan gajah, Chusyd mengatakan ia perlu mengetahui seberapa banyak lemak yang dimiliki gajah penangkaran yang sehat.

"Saya tertarik untuk mengetahui apakah metode yang sebagian besar digunakan dalam penelitian mengenai kesehatan manusia dapat membantu kami mempelajari lebih lanjut tentang gajah," urai Chusyd.

Dalam penelitian tersebut, Chusyd dan timnya menggunakan air berat untuk mengukur kadar air dalam tubuh beberapa lusin gajah penangkaran di kebun binatang di seluruh Amerika Serikat dan Kanada. Sebagai informasi, air berat adalah air yang memiliki molekul yang mengandung atom deuterium.

Deuterium adalah isotop hidrogen yang stabil dengan massa kira-kira dua kali massa isotop normal. Maka dengan menghitung seberapa banyak air yang dibawa gajah, para peneliti dapat menentukan total lemak tubuh hewan raksasa tersebut.

“Kami mendapat ide menggunakan roti yang direndam dengan air berat untuk diberikan ke gajah-gajah,” lanjut Chusyd yang kini bekerja sebagai peneliti paskadoktor di Indiana University.

Para ilmuwan mengumpulkan sampel darah sebelum dan hingga 20 hari setelah memberi makan gajah air berat untuk melacak distribusi air deuterium di tubuh mereka. Dengan menggunakan total kadar air, peneliti dapat memperkirakan kadar lemak gajah jantan dan betina.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gajah jantan memiliki lemak 8,5 persen, sedangkan gajah betina memiliki 10 persen kadar lemak. Sebagai perbandingan, manusia memiliki kadar lemak antara 6 hingga 31 persen. Penelitian ini melibatkan gajah penangkaran untuk melakukan ‘olahraga’ dengan berjalan kaki dengan jarak yang sudah ditentukan, di mana perbandingan ini dilakukan dengan gajah yang ada di alam lepas.

Studi juga membuktikan bahwa para gajah dengan tingkat fertilitas terendah adalah gajah yang memiliki kadar lemak yang terendah pula. Hal ini berarti manusia juga mengalami hal yang sama.

Mereka yang memiliki masalah fertilitas adalah wanita dengan berat badan di bawah normal. Gajah yang memiliki kadar lemak tinggi juga berpotensi mengalami diabetes, Namun demikian, para peneliti sudah memastikan bahwa gajah Asia yang ada dalam penangkaran di kawasan Amerika Utara tersebut jauh dari obesitas, karena selalu rutin ‘berolahraga’.

Continue Reading

Related Posts