Bung Karno Selamatkan Kampus Al-Azhar

Bung Karno Selamatkan Kampus Al-Azhar

Trent P. Martin  ⋅  20 Jan 2021 19:55:43

 – Bung Karno menyelamatkan kampus Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kisah ini pun melegende hingga saat ini. Sampai saat ini Universitas Al-Azhar Kairo Mesir menjadi rujukan pemikiran Islam di dunia. Universitas yang telah berdiri sekitar 970 Masehi ini telah melahirkan banyak ulamat dan pemikir muslim yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Kampus yang sangat dihormati dalam dunia Islam ini rupanya pernah terancam akan ditutup pada tahun 1950-an oleh Presiden Mesir saat itu, Gamal Abdel Nasser. Sang presiden merasa terusik dengan sejumlah ulama Al-Azhar yang bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin yang ia sebut bisa ‘mengusik’ kekuasaannya.

Fenomena itu membuat Gamal ingin menurut Al-Azhar. Namun rencana penututan kampus bersejarah itu batal, setelah Gamal berdialog dengan Bung Karno.

Cerita tentang bagaimana Bung Karno menyelamatkan Al-Azhar itu diceritakan oleh Prof. Dr. Syeikh Aly Goumah, Sekretaris Jenderal Haiah Kibaril Ulama, sebuah badang khusus di Al Azhar dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi nasional Saluran-1 Mesir pada 2013, sebagaimana dilansir Kantor Berita Antara: Soekarno Dikenang Selamatkan Universitas Al Azhar Mesir (Senin, 16 September 2013).

Saat itu Bung Karno mempertanyakan niat Gamal dengan bertanya ‘Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al Azhar? “Ya Gamal, Al Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al Azhar’,” kata Bung Karno saat itu. “Ya, mau bagaimana lagi?” timpal Gamal ‘Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan, Anda wajib menata kembali Al Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukannya menutup,” saran Bung Karno yang diikuti oleh koleganya tersebut.

Ya, Al Azhar dan Mesir memang ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Orang banyak mengenal Mesir karena Al Azhar. Al-Azhar itu adalah Mesir, dan Mesir adalah Al Azhar. Al-Azhar bagi Mesir menurut Bung Karno sama dengan Sungai Nil dan Piramid. Al-Azhar, Nil dan Piramid adalah simbol Mesir.

Makanya, Bung Karno kepada Gamal mengatakan jika langkah menutup Al-Azhar sama saja dengan membongkar Piramid dan menutup Sungai Nil. ”Apakah engkau bakal menghapus Nil? Apakah engkau bakal menghapus piramid? Kita tidak mengenal kalian sama sekali kecuali dengan Al Azhar!,” ujar Bung Karno saat itu yang membuat Gamal berubah pikiran.

Gamal dan Bung Karno memang sahabat karib. Hubungan mereka sangat erat. Sehingga Bung Karno tidak segan-segan melontarkan pendapatnya kepada sahabatnya itu, termasuk pendapat yang tidak sependapat dengannya.

Mereka saling menghormati. Makanya, Gamal menghormati pendapat Bung Karno untuk tidak menutup Al-Azhar dan mengikutinya.

Dikenang Rakyat Mesir Bagi Al-Azhar sendiri, apa yang dilakukan Bung Karno itu sangat berharga bagi eksistensi mereka. Karena Bung Karno, Al-Azhar sampai saat ini tetap kokoh berdiri. Sebagai bentuk penghargaan, Universitas Al-Azhar menganugrahkan gelar doktor honoris causa kepada Bung Karno saat melakukan kunjungan ketiga ke Mesir pada bulan April 1960.

Gelar itu diberikan oleh Syiekh Al Azhar Mahmoud Shaltut dalam sebuah acara kehormatan di Gedung Pertemuan Universitas Al Azhar 24 April 1960. Kala itu Bung Karno memakai baju kebesaran Al Azhar yang terbuat dari bulu domba.

Sebelumnya, Syeikh Agung Al Azhar Abdul Rahman Ali Taag, pendahulu Syeikh Shaltut, sempat berkunjung ke Indonesia bersama Wakil Perdana Menteri Mesir Gamal Salem atas undangan Presiden Soekarno untuk menghadiri HUT Ke-10 Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1955.

Kunjungan serupa dilakukan Syeikh Mahmoud Shaltut pada bulan Januari 1961 selama dua pekan, juga atas undangan Presiden Soekarno. Sejarah mengenai peran Bung Karno terkait penyelamatan Universitas Al Azhar juga kembali diungkapkan ketika Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani ke al-Azhar, Kairo, Mesir, 27 April 2018 lalu, dan bertemu Syaikh Ahmed Tayyeb, Grand Syaikh al-Azhar.

Kepada Puan yang merupakan cucu Bung Karno, Syekh Ahmed Tayyeb mengatakan, “Saya sangat mengenal Bung Karno sejak sekolah SMA dan saya senang sekali hari ini bisa berjumpa dengan Cucu Bung Karno. Kita tahu bahwa Sukarno sebagai inisiator KTT Asia Afrika di Bandung,” ujar Syaikh.

Zuhairi Misrawi, alumnus Al Azhar, mengatakan, Syaikh Ahmed Tayyeb tidak hanya menerima Puan Maharani dalam kapasitasnya sebagai Menteri PMK, melainkan lebih dari itu sebagai cucu Bung Karno. Pesona Bung Karno masih tertulis dengan tinta emas dalam sanubari Grand Syaikh al-Azhar.

“Terlihat sekali pertemuan tersebut penuh kekeluargaan dan kehangatan, tidak seperti kunjungan resmi kenegaraan bersama ulama nomor wahid di dunia itu. Pertemuan yang penuh makna historik sekaligus kontekstual untuk merajut hubungan antara Indonesia-Mesir, termasuk untuk membangun poros mondial Islam Moderat,” ungkap Zuhairi.

Continue Reading

Related Posts