A Hassan Persis: Kawan Diskusi dan Debat Keislaman Bung Karno

A Hassan Persis: Kawan Diskusi dan Debat Keislaman Bung Karno

Ronnie R. Castillo  ⋅  08 Jan 2021 01:29:31

 – A Hassan Persis atau juga populer dengan Hasan Bandung adalah salah satu tokoh yang memberi pengaruh pada pemahaman keislaman Bung Karno. Ahmad Hassan pendiri Pesantren Persis Bangil. Ia teman debat Bung Karno. Seperti saat keduanya saling berbalas surat kala Bung Karno menjaalani masa pengasingan di Ende Nusa Tenggara Timur, Sementara Hassan waktu itu tinggal di Bandung.

Berbagai tema mereka diskusikan, mulai tentang akal, ijtihad, taqlid, hadis, Alquran dan lainnya. Mereka tidak secara terbuka berdikusi. Dan hasil diskusi mereka diabadikan dalam Surat-surat dari Ende yang kemudian masuk dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”

Seperti tulisan Bung Karno dalam suratnya kepada Hassan Bandung (A Hassan) pada tanggal 17 Oktober 1936, yang menggambarkan bagaimana perkembangan keislaman Bung Karno pada periode pembuangan itu.

“Dan sekarang pun, Tuan Hassan, sekarang pun saya Alhamdulillah berkat pertolongan Allah dan pertolongan Tuan sudah lebih bulat dan lebih yakin keislaman saya. Malahan lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan di kalangan umat Islam yang seakan-akan menentang Allah dan Rasul” tulis Bung Karno dalam suratnya kepada A Hassan.

Melalui surat, keduanya berdiskusi tentang banyak tema, mulai dari Alquran dan Hadis. Misalnya mereka berdiskusi tentang posisi hadis lemah (dhoif) yang masih sering menjadi hujjah atau sandaran dalam hukum Islam.

Pemikiran kedua tokoh ini sebenarnya seperti bertolak belakang, namun keduanya tetap saling menghargai pemikiran masing-masing. Mereka berdebat dengan cara yang terhormat dan ilmiah bersandar pada dalil-dalil yang mereka pegang.

Hasan tidak segan-segan untuk mengirim buku kepada Bung Karno saat masih di Ende. Mereka pun berdiskusi tentang buku-buku itu. Sebuah diskusi yang saling menghargai. Tonggak Sejarah Dalam buku Bung Karno dan Kehidupan Berpikir Dalam Islam (Solichin Salam: 1964) menyebutkan, masa pembuangan atau pengasingan Bung karno di Ende merupakan salah satu tonggak dalam perjalanan hidup dan sejarah Soekarno sebagai pejuang kemerdekaan dan pemimpin bangsa.

Di Ende, Bung Karno menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda dari tahun 1934 sampai 1938.

Sejak berada dalam pembuangan inilah, tulis Solichin, semakin kuat hasrat dan keinginan Bung Karno untuk mempelajari agama Islam dengan jalan membaca buku-buku tentang Islam.

Banyak buku dan kitab Islam yang dibaca Bung Karno, baik yang karya orientalisten Barat maupun sarjana-sarjana Islam sendiri dalam berbagai bahasa.

Surat Dari Ende Selain rajin membaca buku, Bung Karno juga rajin berkorespondensi dengan A Hassan. Surat menyurat Bung Karno dan A Hassan ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936.

Di dalam surat-surat Soekarno tertuang seluruh isi hati dan jiwa Bung Karno tentang agama Islam dan umat Islam di Indonesia yang pada waktu itu ia lihat ada kebekuan dan kekolotan.

Surat-surat tersebut; pertama tanggal 1 Desember 1934, kedua 25 Januari 1935, ketiga 26 Maret 1935, keempat 17 Juli 1935, kelima 15 September 1935, keenam 25 Oktober 1935, ketujuh 14 Desember 1935, kedelapan 22 Pebruari 1936, kesembilan 22 April 1936, kesepuluh 12 Juni 1936, kesebelas 18 Agustus 1936, dan kedua belastertanggal 17 Oktober 1936.

Surat-surat ini kemudian menjadi buku yang penerbitannya atas prakarsa A Hassan dengan judul “Surat-Surat Islam Dari Endeh”(Persatuan Islam – Bandung: 1936).

Continue Reading

Related Posts