Mengaku Anak Kiri, Tapi Otak Patriarki

Catrin Holberg  ⋅  18 Mar 2020 22:33:57

 – Sejak tahun 1928 hingga hari ini, tuntutan perempuan Indonesia masih sama. Perempuan pra-kemerdekaan Indonesia sudah berbicara soal harga susu yang mahal, masalah poligami, perkawinan usia anak, dan lainnya. Pada masa itu, perempuan sudah memahami bagaimana kolonialisme dan imperialisme mensubordinasikan perempuan.Sekarang yang penting adalah bagaimana saling menguatkan solidaritas. Gerakan perempuan bekerja dan bergerak di berbagai sektor, karena perempuan ada dalam segala lini kehidupan. Sesama perempuan juga saling berbagi ruang agar suara dari berbagai sektor bisa terdengar.Bagaimana bisa lelaki yang tidak mengalami penindasan seperti perempuan berbicara soal pembebasan perempuan? Kemudian mendikte perempuan bagaimana seharusnya membebaskan diri. Sementara, mereka tidak mau berkaca pada pengalaman mereka sendiri yang tentu jauh berbeda.