Apakah Gempa Tiap Bulan Desember di Aceh Sebuah Kutukan?

Apakah Gempa Tiap Bulan Desember di Aceh Sebuah Kutukan?

Kusuma Susilo  ⋅  07 Dec 2016 23:20:11

Gempa di Aceh, subuh 07 Desember 2016 dengan kekuatan 6,5 skala richter terasa begitu kuat. Saya terbangun dan panik untuk waktu yang lama. Tidak ada yang saya pikirkan selain tsunami akan terulang kembali setelah 12 tahun lamanya. Saya tidak ingat menit ke berapa setelah gempa, suara mengaji di masjid terdengar bertalu-talu. Saya memang masih trauma dengan gempa, besar atau kecil pengaruhnya masih sangat terasa. Dalam remang dan tidak bisa mencapai saklar untuk menghidupkan lampu kamar, saya beristigfar berkali-kali. Lutut saya tidak bisa diajak kompromi untuk sekadar naik kembali ke atas tempat tidur. Dada bergemuruh lumayan kencang sampai perut terasa sakit. Sebab yang mungkin akal-akalan namun begitulah keadaan yang sering terjadi. Saya menahan perih di bagian perut sampai ke dada, mencoba setenang mungkin, menelusuri lorong gelap di hati agar tidak terbawa arus ke emosi tidak stabil, berdamai dengan lutut yang gemetaran, berharap tidak terjadi lagi gempa susulan. Begitu matahari menyingsing, saya menghidupkan smartphone untuk mengecek di mana pusat gempa. Pada detik yang sama, saya langsung mendapatkan informasi beserta gambar-gambar dari Pidie Jaya. Cukup jauh dari rumah saya ke sana, akan memakan waktu seharian jika melewati Banda Aceh maupun Tangse. Gambar yang beredar adalah foto amatir dari warga yang panik. Saya seperti merasakan sendiri bagaimana kepanikan itu. Hampir tiap tahun, bahkan memang tiap tahun sejak 2004, saya akan panik di bulan Desember.

Continue Reading

Related Posts